Hak-Hak yang Tidak Dicantumkan di Undang-Undang


Dunia ini punya banyak penghuni. Kesemuanya masing-masing punya hak yang sama.

Ah…

Seandainya saja seluruh hak yang dimiliki masing-masing orang di dunia ini bisa terwujud tanpa penindasan, alangkah dunia ini akan sangat damai dan penuh kebahagiaan.

P.s : ulasan singkat di bawah ini sedikit mengulang pelajaran PKn di sekolah. Kalau Anda sedang malas, silahkan scroll ke bawah langsung, hingga Anda menemukan tulisan yang tebal dan berwarna merah.

Hak Asasi Manusia, apakah itu?

Semua yang mendapat pelajaran di sekolah, baik ketika SD maupun SMP hingga SMA, pasti pernah mendengar istilah HAM atau Hak Asasi Manusia. Tepatnya lagi, di pelajaran PKn.

Sekedar mengulangi sedikit pelajaran sekolah, bahwa HAM adalah hak yang dimiliki manusia sejak lahir dan berlaku seumur hidup, serta tidak dapat diganggu gugat siapapun, tanpa membeda-bedakan manusia satu dengan yang lainnya (karena semua manusia sederajat di pandangan Yang Kuasa).

Istilah hak asasi manusia adalah terjemahan dari kata droit de l ‘homme. Dalam bahasa Perancis berarti hak manusia. Dalam bahasa Inggris, yaitu Human Rights, dan dalam bahasa Belanda disebut Menselijke Rechten.

Nah, hak asasi manusia yang akan saya bahas di sini adalah HAM anak. Betapa mirisnya melihat orang tua yang menyiksa anaknya, atau melihat anak-anak yang berkeliling di jalan raya yang rawan kejahatan, untuk meminta uang pada para pengguna jalan yang ditemuinya. Apalagi kalau ada anak yang sampai putus sekolah hanya gara-gara kemiskinan.

Memang, sih. Sudah ada program sekolah gratis. Tapi kesadaran masyarakat masih sangat minim akan kebutuhan pendidikan untuk masa depan. Kalau sudah begini, apa selalu pemerintah yang disalahkan? Padahal bila pemerintah berusaha menyadarkan masyarakatnyapun tidak didukung niat dari setiap jiwa di negara ini, sama saja tidak akan berhasil bukan?

Hak asasi manusia sudah diatur dalam perundangan negara. Misalnya dalam UU nomor 39 tahun 1999 pada bab III tentang HAM dan Kebebasan Dasar Manusia, yang terdiri dari 10 bagian:

  1. Hak untuk hidup
  2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
  3. Hak mengembangkan diri
  4. Hak memperoleh keadilan
  5. Hak atas kebebasan pribadi
  6. Hak atas rasa aman
  7. Hak atas kesejahteraan
  8. Hak turut serta dalam pemerintahan
  9. Hak wanita
  10. Hak anak

Nah, lihat kan? Hak anak juga dilindungi undang-undang. Dan masih sama seperti yang saya sebutkan tadi, kurangnya kesadaran masyarakat atas kesamaan hak seluruh manusia mengakibatkan hak asasi manusia (apalagi anak dan wanita) acap kali terlanggar.

Karena saya masih anak-anak (dibawah 18 tahun dan belum menikah), jadi saya mau membahas hak saya dan seluruh anak di dunia ini. Karena, kita (yang anak-anak) wajib tahu hak apa saja yang kita miliki, serta wajib juga mendapatkannya.

Awalnya…

Saat itu Perang Dunia 1 telah berakhir. Melihat banyaknya anak yang menjadi yatim piatu setelah perang, maka Liga Bangsa-Bangsa (sekarang jadi PBB)merasa perlu bertindak. Dari situlah, aktivis Eglantyne Jebb (pendiri Save the Children) kemudian mengembangkan 10 pernyataan tentang hak anak atau rancangan deklarasi anak-anak (Declaration of The Rights of The Child). Oleh Liga Bangsa-Bangsa kemudian deklarasi itu diadopsi dan dikenal sebagai Deklarasi Jenewa.

Sepuluh pernyataan dari Declaration of The Rights of The Child adalah:

  1. Hak akan nama dan kewarganaegaraan
  2. Hak kebangsaan
  3. Hak persamaan dan non-diskriminasi
  4. Hak perlindungan
  5. Hak pendidikan
  6. Hak bermain
  7. Hak rekreasi
  8. Hak akan makanan
  9. Hak kesehatan
  10. Hak ikut serta dalam pembangunan

Kemudian, Deklarasi Jenewa ini direvisi dalam Konvensi Hak anak. Di sini disebutkan bahwa anak memiliki hak untuk tidak didiskriminasikan, diprioritaskan untuk mendapat yang terbaik, hak untuk hidup, dipedulikan kelangsungan hidup dan perkembangannya, serta dihargai saat mengeluarkan pendapat.

Kalau di Indonesia, hak anak diatur di UUPA (Undang-Undang Perlindungan Anak) nomor 23 tahun 2002.

Yang dimaksud anak-anak, yaitu orang berusia dibawah 18 tahun dan belum menikah (kalau misalnya orang usia 17 tahun tapi sudah menikah, apalagi punya anak, jelas namanya orang tua, bukan anak lagi, lah!).

Organisasi anak di dunia

Kunjungi situs berikut ini, situs yang mendukung perlindungan anak.

logo Komisi Nasional Perlindungan Anak

http://www.komnaspa.or.id/ (Komisi Nasional Perlindungan Anak)

http://www.kpai.go.id/ (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)

http://www.asacp.org/ (Association of Sites Advocating Child Protection)

Selain itu, PBB juga mendirikan UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund) pada 11 Desember 1946. Pada saat itu, organisasi ini didirikan untuk memberi makanan dalam keadaan darurat dan kesehatan kepada anak-anak di negara-negara korban Perang Dunia II. UNICEF juga memberikan bantuan kemanusiaan dan pertumbuhan jangka panjang kepada anak dan ibu di negara berkembang. Saat ini, UNICEF fokus di bidang perlindungan anak untuk mencegah kekerasan terhadap anak, eksploitasi, dan penyalahgunaan anak dan remaja hingga usia 18 tahun.  

Banyak hak yang (ternyata) kita miliki sebagai anak! (tidak disebutkan dalam undang-undang)

Hak untuk diberi kepercayaan

Tiap mau ngapain, dilarang. Mau keluar bareng teman, nggak boleh. Pulang telat dikit, dimarahin. Bahkan kadang barang pribadi kita (diary, dan lain-lain) dicek sama orang tua. Dan itu bisa menunjukkan bahwa orang tua tidak mempercayai kita. Alasannya, takut kita gini, lah, gitu, lah. Hm, kita sebagai anak berhak lho, untuk diberi kepercayaan. Tapi bila sudah mendapat kepercayaan, jangan sampai disalah gunakan, ya.

Hak untuk dimaafkan

Tau, lah kalau semua orang punya salah. Berarti, sudah sepantasnya kan, untuk dimaafkan ketika kita berbuat salah. Termasuk, masalah itu tidak usah diungkit-ungkit lagi setiap kita bikin salah yang lain. Dengan catatan, kita harus melakukan hal yang sama kepada orang lain yang bersalah pada kita.  

Hak untuk dapat kembalian

Nggak di warung, supermarket, bahkan di mall aja kadang susah dapet kembalian. Kadang di koperasi sekolah juga loh  . Apalagi kembalian yang harusnya kita dapat itu nominalnya di bawah 1000 rupiah(maklum, lah, jaman sekarang uangnya pada lembaran semua! ). Biasanya penjual kesulitan memberikan kembalian berupa uang receh, seperti Rp100,00 , Rp200,00 , Rp500,00 , apalagi Rp50,00! Trus sebagai gantinya, kita dikasih permen.

Pernah nggak sih, memikirkan kalau dapat 9 permen sebagai pengganti kembalian Rp900,00? Wah, padahal kita tidak sedang mood makan permen. Makna konotasinya, mendapatkan permen sebagai pengganti kembalian adalah: kita dipaksa membeli permen!

Kalau sedang iseng, bisa mencoba untuk mengumpulkan permen dari hasil pengganti kembalian itu sebanyak mungkin. Suatu saat, bila kita membeli sesuatu di toko yang sama, misalnya seharga Rp2000,00 , tinggal bayar menggunakan 20 bungkus permen. Adil kan?! 

Hak untuk jalan di trotoar

Agaknya terkesan aneh, tapi kalau dilihat dengan seksama penuh kepedulian *walah*, maka pasti tahu bila trotoar malah dijadikan tempat PKL berdagang. Ada juga sepeda dan motor yang menggunakan trotoar. Padahal tempat mereka, kan bukan di situ? Jelas-jelas trotoar adalah tempat untuk pengguna jalan tanpa kendaraan, alias pejalan kaki.  

Hak untuk mengetahui diri sendiri

Coba kalau berkonsultasi ke dokter, kadang para dokternya malas menjelaskan apa yang sebenarnya salah di tubuh kita. Padahal kan, kita sebagai pasien berhak tahu tentag kesehatan diri sendiri? Jangan takut dibilang bodoh bila sulit memahami yang mereka katakan. Kalaupun dibilang bawel karena kebanyakan tanya, itu kan demi kebaikan sendiri?

Hak untuk berada dalam antrian yang benar

Maksudnya, tidak diselak orang lain. Siapa sih, yang tidak sebal bila sudah mengantri panjang untuk mendapatkan tiket konser favorit. Ditambah lagi sudah berpanas-panas ria dan pada akhirnya mas-mas, mbak-mbak, ibu-ibu, bapak-bapak, semuanya seenaknya sendiri menyelak antrian kita. Wah… kesannya kan kita nggak dihargai dong.

Hak untuk dihindarkan menjadi perokok pasif

Kita berhak melarang orang di tempat umum atau kendaraan bersama kita untuk merokok. Kan asap rokoknya mengganggu banget. Apalagi asap yang dikeluarkan lebih banyak dari yang dihisap perokoknya. Apalagi kalau sudah tahu ada undang-undang yang mengatur hal ini, dan tersedia smoking room di tempat umum, wah… keterlaluan sekali…  

Hak untuk diantarkan hingga tujuan dan nggak digadaikan nyawanya

Walaupun mungkin tidak banyak, tapi ada saja supir angkutan umum yang menurunkan penumpang semau mereka. Maksudnya, nggak sampai tujuan gitu. Wah, wajib protes tuh! Kita kan udah bayar? Apalagi kalau supirnya berambisi jadi pembalap. Suka kebut-kebutan di jalan raya, dan nyawa kita ‘digadaikan. Kalau sudah terasa bahaya, harus ditegur, tuh si sopirnya.  

Meskipun hak kita wajib kita dapatkan, bukan berarti kita harus berjuang keras sekeras-kerasnya untuk mendapatkan hak kita, sampai menindas hak orang lain. Kita harus selalu ingat, semua orang punya hak yang sama di dunia ini.

Advertisements

7 comments on “Hak-Hak yang Tidak Dicantumkan di Undang-Undang

  1. bagus juga tU…
    he..he
    Sahabatku..
    teruslah berkreasi dengan apa yang dibutuhkan orang lain..
    saya tunggu diskusinya di blog saya ya..
    ditunggu…
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s